Pencarian

FISIP UNILA DAN CPR–USM PERKUAT DIPLOMASI AKADEMIK DAN RISET INTERNASIONAL

MALAYSIA, POJOK.CO - Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lampung (Unila) memperkuat jejaring akademik dan kolaborasi penelitian internasional melalui kegiatan sharing knowledge dan focus group discussion (FGD) bersama Centre for Policy Research (CPR), Universiti Sains Malaysia (USM), Penang, Malaysia. Diskusi yang berlangsung hampir dua jam tersebut membahas pengembangan riset bersama, pertukaran pengetahuan, serta peluang menghasilkan artikel ilmiah yang dipublikasikan pada jurnal internasional bereputasi terindeks Scopus.

Delegasi FISIP Unila dipimpin oleh Prof. Dr. Noverman Duadji, M.Si., Ketua Tim Riset sekaligus Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kerja Sama (WD I) FISIP Unila, bersama Prof. Dr. Novita Tresiana, M.Si., Kepala UPA Bimbingan dan Konseling (UPA-BK) Universitas Lampung. Dari pihak CPR-USM, kegiatan sharing knowledge dan FGD menghadirkan Prof. Madya Dr. Reevany Bustami, peneliti dan dosen senior yang juga menjabat Head/Coordinator of Maritime Nusantara and Sustainability Policy Initiative.

Diskusi juga diperkaya oleh perspektif Agus, warga negara Indonesia yang telah lama menetap di Penang dan aktif sebagai aktivis serta pemerhati isu Pekerja Migran Indonesia (PMI), serta Hanif, mahasiswa program magister (S2) yang sedang menempuh studi di Universiti Sains Malaysia. Kehadiran unsur akademisi, aktivis, dan mahasiswa tersebut memperluas sudut pandang diskusi, sekaligus mempertemukan pengalaman riset, dinamika masyarakat, dan perspektif generasi akademik muda.

Sharing Knowledge dan FGD: Mempertemukan Riset, Kebijakan, dan Pengalaman Lapangan

Pertemuan hampir dua jam ini berlangsung dalam suasana dialogis dan saling mendukung. Kedua pihak bertukar gagasan mengenai peluang penelitian kolaboratif, isu-isu strategis yang relevan bagi Indonesia dan Malaysia, serta kemungkinan pengembangan luaran akademik bersama. Perspektif Prof. Madya Dr. Reevany Bustami mengenai kebijakan maritim dan keberlanjutan melengkapi pengalaman FISIP Unila dalam kajian kebijakan publik dan tata kelola pembangunan.

Masukan Agus mengenai kehidupan warga Indonesia di Penang dan persoalan Pekerja Migran Indonesia memberikan dimensi empiris yang penting. Sementara itu, partisipasi Hanif membuka ruang bagi keterlibatan mahasiswa pascasarjana dalam ekosistem riset lintas negara. Komposisi peserta ini memperlihatkan bahwa diplomasi akademik dapat tumbuh melalui hubungan yang setara antara perguruan tinggi, peneliti, masyarakat, aktivis, dan mahasiswa.

Hasil pembahasan mengarah pada komitmen untuk saling mendukung dalam pengembangan topik, desain penelitian, pertukaran pengetahuan, kegiatan lapangan, penulisan bersama, dan publikasi. Salah satu target utama yang disepakati untuk didorong adalah artikel penelitian kolaboratif yang dapat diajukan ke jurnal internasional terindeks Scopus.

Mengembangkan SDG Diplomacy Bridge Model untuk Tata Kelola Pesisir Berkelanjutan

Salah satu agenda utama yang dipresentasikan FISIP Unila adalah pengembangan “SDG Diplomacy Bridge Model for Sustainable Coastal Governance” atau Model Jembatan Diplomasi SDGs untuk Tata Kelola Pesisir Berkelanjutan. Model ini berangkat dari kesamaan karakteristik dan tantangan wilayah pesisir Lampung dan Penang, yang memiliki potensi sosial, ekonomi, budaya, dan ekologi, sekaligus menghadapi tekanan pembangunan dan kebutuhan pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.

Model tersebut menempatkan perguruan tinggi sebagai jembatan diplomasi pengetahuan yang menghubungkan riset, kebijakan, pelaku usaha, pemerintah, dan komunitas. Lima komponen yang dirancang saling terhubung, yaitu diplomasi pengetahuan melalui pertukaran riset dan inovasi; koherensi kebijakan melalui harmonisasi kebijakan lintas wilayah dan negara; aksi kolektif multipihak yang melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan komunitas; bisnis sosial berkelanjutan melalui penguatan UMKM pesisir dan ekonomi biru; serta ketahanan komunitas dan ekosistem melalui peningkatan kapasitas masyarakat dan konservasi pesisir.

Kelima komponen tersebut diarahkan untuk menghasilkan tata kelola pesisir yang inklusif, adaptif, dan tangguh, sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Model ini juga membuka peluang penelitian komparatif Lampung–Penang dan berpotensi direplikasi pada wilayah pesisir lain di Indonesia maupun kawasan ASEAN.

Memperluas Agenda Riset: Pekerja Migran, Narkoba, Gender, dan Kesehatan Mental

Selain tata kelola pesisir, diskusi mengidentifikasi peluang pengembangan agenda penelitian lintas disiplin yang berhubungan langsung dengan persoalan sosial kontemporer. Isu Pekerja Migran Indonesia menjadi salah satu bidang yang relevan untuk dikaji, antara lain terkait pengalaman migrasi, perlindungan pekerja, akses terhadap layanan, jejaring komunitas, serta hubungan antara kebijakan negara asal dan negara tujuan. Perspektif Agus sebagai aktivis dan pemerhati PMI di Penang menjadi masukan penting dalam melihat persoalan dari pengalaman lapangan.

Agenda lain yang dibahas untuk dikembangkan melalui kolaborasi meliputi penyalahgunaan dan pencegahan narkoba, kesetaraan gender, kesehatan mental, serta pencegahan dan perlindungan dari tindak kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi. Isu-isu tersebut membutuhkan penelitian berbasis bukti yang tidak berhenti pada pemetaan masalah, tetapi juga menghasilkan rekomendasi kebijakan dan penguatan kapasitas kelembagaan.

Dalam isu narkoba, penelitian dapat diarahkan pada faktor sosial, strategi pencegahan, dan peran institusi pendidikan serta komunitas. Kajian gender dapat mencakup kesetaraan kesempatan, partisipasi, dan kebijakan responsif gender. Penelitian kesehatan mental dapat memetakan kebutuhan dukungan psikososial dan pengembangan lingkungan akademik yang sehat. Adapun kajian kekerasan seksual dapat mencakup kebijakan kampus, mekanisme pencegahan dan penanganan, perlindungan korban, serta penguatan budaya kampus yang aman dan berkeadilan.

Keterlibatan Prof. Dr. Novita Tresiana, M.Si., sebagai Kepala UPA-BK Universitas Lampung, memberikan relevansi kelembagaan dalam pengembangan agenda kesehatan mental dan dukungan psikososial di lingkungan perguruan tinggi. Kolaborasi lintas disiplin antara FISIP Unila dan CPR-USM diharapkan dapat mempertemukan pendekatan kebijakan publik, sosial, kemasyarakatan, dan layanan kelembagaan.

Publikasi Scopus dan Kemitraan Riset Berkelanjutan

Salah satu luaran yang menjadi sasaran bersama adalah artikel penelitian kolaboratif untuk dipublikasikan pada jurnal internasional bereputasi terindeks Scopus. Untuk mencapai target tersebut, kedua pihak akan mendorong proses yang berkesinambungan, mulai dari pematangan topik dan kerangka konseptual, penyusunan metodologi, pengumpulan serta analisis data, penulisan artikel, hingga proses pengajuan ke jurnal.

Kerja sama ini diharapkan tidak berhenti pada pertemuan atau pertukaran gagasan, melainkan berkembang menjadi agenda riset yang terencana dan terukur. Bentuk tindak lanjut dapat mencakup penyusunan proposal bersama, FGD tematik lanjutan, penelitian lapangan di Lampung dan Penang, pelibatan mahasiswa pascasarjana, serta pertukaran peneliti.

Bagi FISIP Unila, kemitraan ini sejalan dengan penguatan internasionalisasi, peningkatan kualitas penelitian, perluasan jejaring akademik, dan kontribusi perguruan tinggi terhadap penyelesaian persoalan publik. Bagi kedua institusi, kolaborasi Indonesia–Malaysia juga menjadi ruang pembelajaran komparatif untuk memahami tantangan kebijakan dan pembangunan dalam konteks masyarakat yang saling terhubung.

Diplomasi Akademik yang Menghasilkan Dampak

Pertemuan FISIP Unila dan CPR-USM menegaskan pentingnya diplomasi akademik sebagai sarana membangun hubungan internasional melalui pengetahuan, penelitian, dan solusi atas persoalan bersama. Kesamaan perhatian terhadap isu maritim, keberlanjutan, masyarakat, dan kebijakan publik menjadi modal untuk membangun kemitraan yang saling menguatkan.

Dengan dukungan akademisi senior, peneliti, aktivis masyarakat, dan mahasiswa, kolaborasi ini diharapkan mampu menghubungkan gagasan akademik dengan kebutuhan nyata di lapangan. Pengembangan SDG Diplomacy Bridge Model, perluasan agenda riset sosial, dan target publikasi Scopus menjadi langkah awal menuju kemitraan yang lebih substantif.

FISIP Universitas Lampung berkomitmen mendorong kerja sama ini agar menghasilkan kontribusi ilmiah dan rekomendasi kebijakan yang bermanfaat bagi masyarakat, memperkuat tata kelola pesisir, serta mendukung pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal, nasional, dan regional.