Pencarian

Dari Mahasiswa Hukum UMRI Jadi Bos Kopi, Mental Mandiri Tanpa Bebankan Orang Tua

PEKANBARU, POJOK.CO - Banyak anak muda inspiratif yang memilih membuka bisnis. Seperti pria menawan yang suka ngopi satu ini yang sukses jadi bos di lapak kopi miliknya yang bernama DA Coffee di Jalan Cut Nyak Dien, Kota Pekanbaru.

Jalan Cut Nyak Dien, terutama yang berlokasi di belakang Kantor Gubernur Riau, telah menjadi pusat kuliner malam yang ramai dengan puluhan pedagang, termasuk banyak yang menjual kopi. Fenomena ini mencakup banyaknya gerobak kopi dan kafe kecil yang populer di kalangan mahasiswa karena harganya yang terjangkau dan suasananya yang hidup.

Salah seorang owner DA Coffe, Dika Ananda yang berlokasi di Jalan Cut Nyak Dien Pekanbaru, mengaku ia baru terjun ke bisnis kopi bersama partner-nya, pada pertengahan tahun lebih tepatnya di Juni 2025 lalu.

“Awal mulanya saya suka kopi dan ya saya juga suka berbisnis, ditambah lagi kopi ini zamannya tidak pernah habis, mulai dari kalangan remaja orang tua bahkan anak-anak pun bisa menjadi pecinta kopi. Apalagi di zaman sekarang yang dicari itu untuk menikmati waktu santai ya ngopi,” kata Dika, pada Rabu (17/12/2025).

Tujuan ia bersama partner nya membuka street kopi ini, karena ingin menunjukkan bahwa ia bisa mandiri dengan menghasilkan uang sendiri, tanpa harus menyusahkan orang tua.

“Dengan memulai bisnis ini dari nol ya kami anak muda yang menjadi perintis bukan pewaris. Dulu saya juga berjualan Iphone dari teman ke teman, terus tertarik ingin membuka street kopi ini. Saya dengan partner coba dari UMKM tepi jalan, yang insyallah lama kelamaan bisa membuka coffee shop,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Dika yang juga merupakan seorang Mahasiswa Fakultas Hukum Umri, merasa perputaran volume penjualan di Cut Nyak Dien ini sangat cepat. Dengan perputaran hasil penjualan yang cepat menunjukkan lokasi ini merupakan lokasi yang strategis dan memiliki lalu lintas pembeli tinggi.

“Target pasar kami anak muda kak, terlebih di Pekanbaru ini banyak kan tempat wisata kuliner malam seperti Taman Labuai Citywalk, sekitaran Masjid Agung An-nur, Bundaran Keris dan di Cut Nyak Dien, perputarannya setiap hari itu ada. Karena setiap hari pasti ada, kalau hari libur seperti Sabtu dan Minggu itu bisa tembus 2 hingga 3 juta per-malamnya,” terang Dika.

Dika menjelaskan, bahwa ia sendiri yang meracik menu kopi di lapak kopi. Sehingga kopi yang ditawarkan bisa dinikmati bukan hanya pria, tapi juga wanita dengan harga yang standar, yakni Rp20.000 hingga Rp28.000.

Kopi yang dia racik ini tergolong lumayan ringan dan dapat membuat orang-orang yang awalnya tidak terbiasa minum kopi jadi aman untuk meminumnya dan banyak varian rasa di DA Coffe ini.

”Kopinya kami racik sendiri, ya kebanyakan juga saya belajar dari media sosial seperti tiktok dan instagram. Dengan memanfaatkan media sosial tentu dapat mempermudah kita, bisa tau resep yang enak dan semacamnya,” katanya.

“Saya selalu ketemu dengan orang-orang yang menarik. Jadi menurut saya, menjadi pedagang kopi seperti ini bukan hanya sekadar minum secangkir kopi. Tapi kita bisa ketemu banyak hal dan orang baru,” lanjut Dika.

Mahasiswa Umri ini berharap, dengan membangun street kopi ini, orang lain juga merasakan hal yang sama, yaitu merasa connected, productive, dan inspired. Tapi setelah punya bisnis sendiri, menurutnya hal penting lainnya yang perlu diperhatikan yaitu harus upgrade skill set diri sendiri.

"Aku pun masih banyak belajar sampai saat ini dalam berbisnis, seperti bagaimana cara me-manage orang dengan pelayanan terbaik. Jadi, yang paling penting adalah kamu harus memotivasi diri sendiri untuk belajar dan berkembang,” ungkapnya.

“Aku melihat bisnis sebagai supply and demand. Kalau ada demandnya pasti bisnis tersebut bisa berkembang. Jadi memang harus lihat market sizenya dulu seberapa,” tandas Dika.

(***)