OPINI - Di negeri Hamparan Kelaparan Dunia, Kabupaten Indragri Hilir (Riau) yang kaya sumber daya namun miskin kejujuran, tikus-tikus tak lagi bersembunyi di got atau lumbung padi. Mereka kini duduk manis di kursi empuk, mengenakan jas rapi dan berdasi mahal. Tikus-tikus ini bukan sembarang tikus.
Mereka pandai berbicara, lihai berargumentasi, dan sering tampil seolah-olah paling kritis membela rakyat. Ironisnya, justru merekalah yang diam-diam menggerogoti dari dalam.
Fenomena “kritis-kritis berdasi, si tikus minta dasi” bukan cerita baru. Ia adalah simbol dari siapa saja yang diberi amanah namun menyalahgunakannya demi kepentingan pribadi dan kelompok. Mereka mengkritik keras kebijakan orang lain, berteriak soal transparansi, bahkan mengatasnamakan kepentingan publik. Namun ketika kesempatan datang, tangan mereka justru lebih cepat menjulur ke anggaran, proyek, atau fasilitas negara.
Yang lebih miris, tikus ini bukan hanya ingin aman di sarangnya. Ia ingin pengakuan. “Si tikus minta dasi” adalah gambaran betapa kerakusan tak pernah merasa cukup. Sudah mencuri, masih ingin dihormati. Sudah merusak kepercayaan publik, masih menuntut jabatan dan fasilitas.
Mereka ingin terlihat terhormat, padahal perilakunya jauh dari kata bermartabat.
Budaya ini tumbuh subur ketika pengawasan lemah dan masyarakat mudah lupa. Ketika kasus korupsi datang silih berganti namun tak ada efek jera, tikus-tikus baru akan lahir. Mereka belajar dari pendahulunya, bagaimana mengaburkan jejak, memainkan regulasi, dan memanfaatkan celah hukum.
Kritik dijadikan tameng, retorika dijadikan alat pencitraan. Padahal, jabatan sejatinya adalah amanah. Dasi bukan sekadar aksesoris, melainkan simbol tanggung jawab. Ia seharusnya mengikat komitmen moral, bukan sekadar melengkapi penampilan.
Jika yang mengenakannya justru mengkhianati kepercayaan, maka dasi itu hanyalah kain mahal yang membungkus kebusukan.
Sudah saatnya publik tak lagi terpesona pada retorika. Masyarakat harus berani menilai berdasarkan rekam jejak, bukan sekadar kata-kata. Transparansi, partisipasi, dan kontrol sosial menjadi benteng agar lumbung negara tak terus-menerus digerogoti.
Sebab jika tikus terus dibiarkan berdasi dan merasa terhormat, jangan heran bila suatu hari lumbung benar-benar kosong. Dan ketika itu terjadi, yang paling menderita bukanlah tikus-tikus itu, melainkan rakyat yang sejak awal hanya berharap pada janji dan kejujuran.

