TEMBILAHAN, POJOK.CO – Kerentanan ekologis di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) terus meningkat akibat banjir rob dan banjir hujan yang semakin sering dan meluas. Kondisi ini mengganggu aktivitas masyarakat, merusak infrastruktur, serta menekan ekonomi daerah yang bergantung pada komoditas kelapa. Krisis iklim di Inhil kini telah menjadi ancaman nyata, baik di wilayah pesisir maupun daratan.
Ketua Badan Daerah Perjuangan Nelayan (BDPN), Zainal Arifin Hussein, menilai persoalan banjir dan kerusakan kebun kelapa tidak bisa lagi dipandang sebagai masalah teknis semata.
“Banjir rob, hujan ekstrem, abrasi, dan intrusi air laut adalah rangkaian dampak perubahan iklim yang saling memperkuat. Ini harus ditangani secara sistemik,” ujarnya.
Ia mengapresiasi penyaluran bantuan bibit kelapa dari Kementerian Pertanian, namun menegaskan bahwa peremajaan kebun rakyat berisiko gagal jika tidak dibarengi perlindungan lingkungan.
“Tanpa tanggul pengendali banjir dan pengelolaan wilayah yang baik, bibit baru akan menghadapi masalah yang sama,” kata Zainal.
BDPN mendorong Pemerintah Daerah segera menyusun Rencana Aksi Daerah Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim agar pembangunan, termasuk peremajaan kelapa dan infrastruktur, berbasis risiko iklim dan berkelanjutan.
“Pembangunan ekonomi dan perlindungan lingkungan harus berjalan seiring,” tegasnya.
(Ay)
