JAKARTA, POJOK.CO — Anjloknya harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) menyeret kinerja saham emiten sawit yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) ke zona merah. Sejumlah saham CPO terpantau melemah tajam pada perdagangan siang hari, Kamis (11/12/2025).
Saham PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) mencatat penurunan terdalam dengan ambles lebih dari 12% ke level Rp1.360 per saham. Tekanan ini sejalan dengan pelemahan sektor saham konsumen primer—yang menaungi emiten-emiten CPO—yang turun hingga 1,44%, bersaing dengan sektor transportasi sebagai sektor dengan koreksi terdalam hari ini.
Tekanan pada saham-saham sawit dipicu oleh tren penurunan harga CPO global. Harga CPO di Bursa Malaysia Derivatives Exchange untuk kontrak pengiriman Februari 2026 ditutup melemah 1,1% secara point-to-point pada Rabu (10/12/2025) ke level MYR 4.061 per ton.
Sentimen negatif turut datang dari Malaysia. Malaysian Palm Oil Board (MPOB) melaporkan stok minyak sawit Malaysia pada November 2025 melonjak menjadi 2,84 juta metrik ton, naik 13% dibandingkan bulan sebelumnya dan menjadi level tertinggi dalam lebih dari 6,5 tahun terakhir. Lonjakan stok tersebut memicu kekhawatiran kelebihan pasokan yang berpotensi menekan harga CPO lebih lanjut.
Realisasi stok tersebut juga melampaui ekspektasi pasar. Berdasarkan konsensus Bloomberg yang melibatkan 11 responden, median proyeksi stok minyak sawit Malaysia per November berada di angka 2,71 juta metrik ton—yang tetap menjadi level tertinggi sejak Maret 2019.
Seiring sentimen tersebut, saham-saham emiten CPO kompak bergerak di zona bearish pada perdagangan siang hari ini. DSNG turun 12,54% ke Rp1.360, disusul PT Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) yang merosot 8,4% ke Rp1.150, serta PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) yang terkoreksi 6,74% ke Rp1.385.
Pelemahan juga dialami PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA) yang turun 5,38% ke Rp1.320 dan PT Teladan Prima Agro Tbk (TLDN) yang jatuh 4,79% ke Rp695. Sementara itu, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) melemah 4,15% ke Rp7.500.
Sejumlah emiten sawit lainnya turut mencatat penurunan, antara lain PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS), PT Citra Borneo Utama Tbk (CBUT), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), hingga PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) dan PT Gozco Plantations Tbk (GZCO).
Tekanan terhadap saham-saham CPO diperkirakan masih akan berlanjut selama harga komoditas sawit global belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan di tengah bayang-bayang surplus pasokan. (***)
