JAKARTA, POJOK.CO - Tak banyak sosok yang mampu meniti karier cemerlang di tiga dunia berbeda: pers, bisnis, dan politik. Namun, Mafirion membuktikan bahwa integritas dan ketajaman berpikir adalah kunci untuk menaklukkan ketiganya. Tokoh kelahiran Pulau Kijang, Indragiri Hilir, 30 Maret 1964 ini, kini menjadi salah satu figur yang diperhitungkan di kancah politik nasional.
Perjalanan hidupnya adalah sebuah anomali yang menginspirasi. Berawal dari "kuli tinta" yang menyisir berita, kini ia duduk di kursi empuk Senayan untuk merumuskan kebijakan bagi jutaan rakyat Indonesia.
Menempa Diri di Dapur Redaksi Kompas
Karier Mafirion dimulai dari bawah. Selama hampir satu dekade (1988–1996), ia mendedikasikan hidupnya sebagai wartawan di harian Kompas, salah satu media paling berpengaruh di Indonesia. Di sanalah nurani dan insting politiknya terasah.
Pengalaman di lapangan sebagai jurnalis membuatnya paham betul akan penderitaan rakyat kecil, ketimpangan sosial, dan pentingnya transparansi pemerintah. Tak heran, setelah sukses di media nasional, ia pulang ke Riau dan mendirikan imperium medianya sendiri, termasuk koran harian Rakyat Riau dan memimpin Riau Televisi (RTV).
Gebrakan di Dunia Olahraga dan BUMD
Kepiawaian Mafirion dalam memimpin tidak hanya terbatas pada meja redaksi. Ia merambah dunia olahraga dengan menjadi anggota Executive Committee (EXCO) PSSI (2006–2011). Tangan dinginnya bahkan membawa klub Deltras FC berkompetisi di kasta tertinggi liga Indonesia sebagai Presiden Direktur.
Di sektor ekonomi daerah, ia dipercaya menjadi salah satu Direktur di PT Sarana Pembangunan Riau (SPR). Pengalaman manajerial di BUMD inilah yang memberinya pemahaman mendalam tentang bagaimana roda ekonomi daerah harus digerakkan demi kesejahteraan masyarakat Riau.
Menjadi Suara Riau II di Senayan
Karier politiknya bersama Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) membawanya ke DPR RI. Mewakili Dapil Riau II (Kampar, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, Pelalawan, dan Kuantan Singingi), Mafirion bertugas di Komisi IX.
Di komisi yang membidangi kesehatan, tenaga kerja, dan transmigrasi ini, Mafirion benar-benar menjadi "penyambung lidah" yang vokal. Ia konsisten memperjuangkan:
Kesehatan Rakyat: Memastikan fasilitas kesehatan di pelosok Riau mendapatkan perhatian pusat.
Nasib Pekerja: Mengawal regulasi ketenagakerjaan yang adil bagi buruh dan perusahaan.
Pemberdayaan Daerah: Memastikan program transmigrasi dan sosial berdampak langsung pada pengentasan kemiskinan.
Harapan Baru dari "Putra Inhil"
Bagi masyarakat Indragiri Hilir dan sekitarnya, Mafirion adalah simbol keberhasilan putra daerah. Ia membuktikan bahwa seorang wartawan yang jujur bisa bertransformasi menjadi politisi yang amanah.
"Politik bagi saya adalah kelanjutan dari jurnalistik—keduanya adalah alat untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan," ungkapnya dalam sebuah diskusi.
Kini, dengan segala rekam jejaknya yang multidimensi, Mafirion terus melangkah, membawa harapan bahwa suara dari pesisir Riau akan selalu bergema kuat di jantung ibu kota.
Sumber: Wikipedia
