Hamdan Zoelva: Amandemen untuk Kembalikan GBHN Tidak Urgen

KBR, Jakarta- Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Hamdan Zoelva menilai tidak ada urgensi untuk memunculkan kembali Garis Besar Haluan Negara (GBHN).

“Sekarang ini kita punya Undang-Undang rencana jangka panjang pembangunan sampai 25 tahun. Itu mengikat seluruh lembaga negara, mengikat Presiden, mengikat DPR, mengikat siapapun, organisasi negara apapun, mengikat Pemda-Pemda, provinsi, kabupaten, dan kota. Apa bedanya GBHN dengan undang-undang itu?” kata Zoelva kepada KBR, Selasa (13/8/2019).

“Lalu kalau kehendaknya GBHN itu berlaku 25 tahun sampai 50 tahun, apa bedanya dengan buat Undang-Undang rencana pembangunan jangka panjang 50 tahun?” tukasnya lagi.

Menurut Hamdan Zoelva, jika amandemen GBHN benar-benar diwujudkan, harus ada pihak khusus yang mengawasi.

“Jika MPR yang mengawasi GBHN, (MPR) akan memiliki kewenangan yang besar atau jadi lembaga tertinggi negara, artinya kembali lagi pada tahun 1960,” kata Zoelva.

Sebelumnya, wacana amandemen UUD 1945 untuk memuculkan GBHN ini dilontarkan oleh PDI-P. Wacana ini kemudian didukung oleh perwakilan sejumlah partai seperti PAN, PKS, serta beberapa orang menteri. 

Editor: Agus Luqman

sumber: kbr.id

Ormas Islam Harus Aktif Lakukan Kontra Radikalisme

JAKARTA (Bisnisjakarta)- Organisasi Islam dan kalangan kampus harus berperan aktif melakukan kontra radikalisme, diantaranya membangun kontra narasi radikalisme untuk menghilangkan paham terhadap seseorang yang terpapar paham radikalisme. “Harus ada upaya dari ormas moderat seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama untuk mulai membuat kontra-narasi radikalisme,” kata pengamat komunikasi dan Direktur Pusat Studi Sosial dan Pembangunan Berkelanjutan (CS3D-Paramitra) Irfan Fauzi Arief di Jakarta, Selasa (13/8).

Menurut Irfan, hal tersebut harus menjadi lahan dakwah Muhammadiyah, NU dan Syarikat Islam serta Ormas Islam lainnya agar paham radikal dalam konotasi negatif  tidak menyebar ke masyarakat. Selain itu, organisasi-organisasi mahasiswa juga harus mulai bersuara terkait dengan hal itu, karena radikalisasi saat ini cukup banyak juga melalui kampus-kampus.

Organisasi-organisasi mahasiswa Islam seperti HMI, IMM, PMII, KAMMI dimana organisasi mahasiswa saat ini mengalami degradasi pemikiran, dari idiologis kepada pragmatis, sehingga kini jarang terdengar bersuara atas kepentingan rakyat, kalaupun berdemo biasanya bila menyangkut urusan pribadinya. “Harusnya merekalah yang juga berperan aktif untuk meng-counter penyebaran paham-paham radikal di kampus,” kata Irfan.

Untuk itu, jelas Irfan, kampus sebagai tempat kaum intelektual dan calon intelektual kampus harus dapat mencegah masuknya paham radikalisme dan terorisme. Menurutnya, ada beberapa cara agar lingkungan kampus terbebas dari paham radikalisme.

Pertama tentunya yakni perkuliahan, dimana dalam perkuliahan yang sesuai kalender akademik atau program studi yang telah ditentukan dan menjadi pilihan mahasiswa itu sendiri dan juga pendidikan yang di luar program studi seperti kegiatan kemahasiswaan.

Kedua, memperkuat mata kuliah tertentu seperti penguatan tafsir, penguatan ideologi negara itu sendiri dan mata kuliah tertentu lainnya. Nantinya, di mata kuliah itu diantisipasi dalam pokok-pokok bahasannya. Selain itu, mahasiswa yang berkuliah di kampus tidak hanya diberikan teori, namun juga dibekali praktek di lapangan.

Ketiga, mencegah masuknya tenaga pendidik atau dosen berlatar belakang pendidikan atau berpandangan ektrem atau berideologi radikal.

Selain itu, kata Irfan, yang bisa dilakukan adalah menjadikan moderasi Islam sebagai gerakan segenap civitas akademika di lingkungan kampus. Lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) mempunyai modal cukup untuk ini. Sebab diskursus pemikiran keislaman berkembang baik sehingga tinggal didorong agar moderasi bisa menjadi gerakan bersama.

Selanjutnya adalah memperkuat wawasan kebangsaan mahasiswa dan civitas akademika kampus. Selain sesi-sesi perkuliahan, kata Irfan, upaya ini bisa dikemas dalam ragam aktivitas positif yang dapat mencegah secara dini berkembangnya paham ekstrem yang tidak sesuai dengan nilai moderasi Islam serta Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Sejatinya, pihak kampus juga harus ikut serta mengawasi segala macam bentuk kegiatan dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di dalam kampus itu sendiri. “Jangan sampai UKM yang ada di lingkungan kampus tersusupi paham radikal,” pesan Irfan. (son)

sumber: bisnisjakarta.co.id

Temui Menkominfo, PB SEMMI dan PP PERISAI Siap Kerjasama Menuju Indonesia Unggul

Jakarta, SuaraSI.com – Untuk menjalin silaturrahim, Pengurus Besar Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PB SEMMI) dan Pimpinan Pusat Pertahanan Ideologi Sarekat Islam (PP PERSAI) menemui Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara, di ruang kerjanya, kantor Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo), Jalan Medan Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (12/8).

Selain menjalin silaturrahim, dalam kunjungan tersebut, baik PB SEMMI dan PP PERISAI menawarkan tiga program kerja yang ditawarkan kepada Kemenkominfo.

“Program kerja yang terdekat yang akan kami selenggarakan adalah workshop atau pelatihan dalam rangka menyambut 74 tahun kemerdekaan Indonesia,” ujar Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi (Infokom) PP PERISAI, Dede Prandana Putra, saat presentasi didepan Menteri Rudiantara.

Tema kegiatan tersebut, lanjut Dede, yakni Kemerdekaan Digitalisasi Milenial. “Adapun sasaran pesertanya ialah 1000 orang dari perwakilan mahasiswa dan pemuda se-Indonesia,” tambahnya.

Nanti, tambah Dede, setelah dilaksanakan workshop ataupun pelatihan, seluruh peserta akan menjadi relawan memantau media sosial. “Latar belakang kegiatan ini dikarenakan masih banyak generasi milenial yang belum bisa mempergunakan media sosial secara bijak. Seperti adanya paham radikalisme, hoax serta ujaran kebencian yang berseliweran di media sosial. Belum lagi aksi pornografi serta pornoaksi. Nah, semua itu nanti akan kami pantau dan laporkan kepada Kominfo jika terdapat perilaku-perilaku yang negatif yang dilakukan oleh pemakai media sosial,” tegas Dede.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua Umum PB SEMMI, Bintang Wahyu Saputra, yang menginginkan adanya peran aktif generasi milenial dalam upaya mencerdaskan kehidupan digital, terutama dalam bermedia sosial.

Mendengar pemaparan dari PP PERISAI dan PB SEMMI, Menteri Rudiantara atau biasa disapa Chief Rudi ini menyambut baik keinginan tersebut. “Saya mau kegiatan-kegiatan yang sudah dipaparkan dilakukan diluar Jakarta. Biar tidak Jakarta sentris,” tambahnya.

Diakhir silaturrahim, PP PERISAI dan PB SEMMI mengucapkan terima kasih kepada Menteri Rudiantara yang telah menerima audiensi secara langsung di kantor Kominfo RI.

“Seorang menteri yang berbeda dengan gaya suple dan milenial kami yakin Prestasi Kominfo RI selama ini berkat Kepemimpinan beliau,” ujar Bintang.

Bintang juga menambahkan akan membuat sinergisitas antara PB SEMMI dan Kominfo RI dengan membuat beberapa kegiatan positif untuk menuju Indonesia Unggul.

Adapun rombongan yang ikut dalam agenda silaturrahim ini adalah Ketua Umum PB SEMMI, Bintang Wahyu Saputra, Sekretaris Jenderal PB SEMMI, Muhammad Saputra Adhi Lesmana, Bendahara Umum PB SEMMI, Selsia Olivia, Ketua Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral PB SEMMI, Hari Yaldika, Pengurus PB SEMMI, Sena Nata, Ketua Bidang Infokom PP PERISAI, Dede Prandana Putra, Ketua Bidang Kewirausahaan PP PERISAI, Imanuddin dan Ketua Bidang Hukum dan HAM PP PERISAI, Yayan Septiadi.

sumber: suarasi.com

Hamdan Zoelva : ‘Kurbankan’ dan ‘Sembelih’ Rasa Benci, Rasa Permusuhan serta Perselisihan untuk Membangun Solidaritas dan Persaudaraan

Bogor, SuaraSI.com – Dalam suasana Idul Adha ini, dengan modal keikhlasan dan kesucian hati, menjadi momentum bagi kita semua untuk bersatu dan kompak kembali, setelah pemilihan umum yang membuat kita terbelah karena berbeda pilihan dan dukungan, bahkan perbedaan itu bisa terjadi antara saudara dan keluarga, suami dan isteri. Apalagi dalam pemilihan presiden dan wakil presiden, masyarakat terbelah dalam dua kelompok besar sesuai arah dukungan masing-masing.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Lajnah Tanfidziyah/Pimpinan Pusat Syarikat Islam, Dr. Hamdan Zoelva, SH. MH, saat khutbah dengan tema ‘Refleksi Idul Adha dalam Kehidupan Berbangsa’ di Komplek Perumahan Cikal Harapan, Jonggol, Bogor, Jawa Barat, Minggu (11/8).

Mari kita pergunakan momentum Iedul Adha ini, lanjut Hamdan, untuk saling mengurbankan dan menyembelih rasa benci, rasa permusuhan serta perselisihan diantara kita karena perbedaan pilihan dalam pemilihan umum, demi persaudaraan dan kebersamaan kita sebangsa dan setanah air.

“Jika pada saat pemilu, kita tersekat karena dukungan dan pilihan yang berbeda, sekarang saatnya kita bersatu, ikut membangun bangsa dan negara yang kita cintai,” tegas Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2013-2015 ini.

Hamdan menambahkan pemilihan presiden adalah mekanisme belaka, yang dilakukan setiap lima tahun untuk memperoleh pemimimpin yang didukung rakyat. “Janganlah akibat pemilihan umum kita bercerai berai dan terus terbelah,” tukasnya.

Dalam khutbah nya, Hamdan juga menyampaikan bahwa Allah telah mengingatkan kita semua untuk selalu bersatu dalam tali Allah dan jangan bercerai berai dan bermusuh-musuhan. Seperti firman Allah “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika sebelumnya bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu” (QS. Ali Imran : 103)

“Ayo kita bangun solidaritas dan persaudaraan yang tulus dalam suasana kebahagiaan merayakan Idul Adha,” ajak Hamdan.

sumber: suarasi.com

Idul Adha 1440 H, Ketum PP PERISAI : Pentingnya Rasa Syukur dan Ikhlas

Jakarta, – Dalam rangka menyambut hari raya Idul Adha 1440 Hijriah, Syarikat Islam beserta organisasi seru

mpun, yakni Pengurus Pusat Pertahanan Ideologi Sarekat Islam (PP PERISAI) dan Pengurus Besar Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PB SEMMI) menyelenggarakan pemotongan hewan qurban dua ekor sapi dan lima ekor kambing di Rumah Kebangsaan HOS Tjokroaminoto, Jalan Taman Amir Hamzah Nomor 2, Pengangsaan, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (11/8).

Dalam acara ini Ketua Umum PP PERISAI, Chandra Halim menekankan pada panitia dan pengurus Organisasi tentang pentingnya rasa syukur dan keikhlasan dalam kehidupan di dunia.

“Kita seharusnya mengingat kembali kebesaran jiwa seorang ayah, dalam hal ini Nabi Ibrahim As, yang dengan ikhlas mengorbankan kepentingan pribadi untuk melaksanakan perintah agama, yaitu menyembelih putranya berdasarkan kebenaran,” ujar nya.

Chandra menambahkan makna kurban adalah mengingat kembali tentang kesabaran dan bakti seorang anak kepada orang tua yaitu Nabi Ismail AS. “Beliau ikhlas menjadi qurban dan disembelih ayahnya karena taat pada firman Allah SWT, walaupun pada akhirnya digantikan dengan hewan,” tutur Chandra yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Organisasi DPP SI ini.

Sementara itu, Ketua Umum PB SEMMI, Bintang Wahyu Saputra, menjelaskan bahwa inti dari semangat idul adha adalah rasa yang selalu bersyukur dan ikhlas dalam menjalani perintah Allah.

Selain itu bintang dan Chandra Halim juga menambahkan bahwa segenap pengurus dan panitia Qurban berterimakasih kepada pihak-pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan Qurban ini.

“Kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Polda Metro, Polres Metro Jakarta Pusat, Dirjen Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM serta seluruh masyarakat yang mempercayai kami sebagai penyalur hewan kurban di Idul Adha 1440 H. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita. Amin,” tutup Bintang.

sumber: perisai.or.id

Selenggarakan Qurban, SI Beserta Organisasi Serumpun Ingatkan Perlunya Selalu Bersyukur dan Ikhlas dalam Berbuat

Jakarta, SuaraSI.com – Dalam rangka menyambut hari raya Idul Adha 1440 Hijriah, Syarikat Islam beserta organisasi serumpun, yakni Pengurus Pusat Pertahanan Ideologi Sarekat Islam (PP PERISAI) dan Pengurus Besar Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PB SEMMI) menyelenggarakan pemotongan hewan qurban dua ekor sapi dan lima ekor kambing di Rumah Kebangsaan HOS Tjokroaminoto, Jalan Taman Amir Hamzah Nomor 2, Pengangsaan, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (11/8).

“Kita seharusnya mengingat kembali kebesaran jiwa seorang ayah, dalam hal ini Nabi Ibrahim As, yang dengan ikhlas mengorbankan kepentingan pribadi untuk melaksanakan perintah agama, yaitu menyembelih putranya berdasarkan kebenaran,” ujar Ketua Umum PP PERISAI, Chandra Halim saat diwawancarai.

Chandra menambahkan makna kurban adalah mengingat kembali kesabaran seorang anak yang berbakti kepada orang tua yaitu Nabi Ismail AS. “Beliau ikhlas menjadi qurban dan disembelih ayahnya karena taat pada firman Allah SWT, walaupun pada akhirnya digantikan dengan hewan,” tutur Chandra yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Organisasi DPP SI ini.

Sementara itu, Ketua Umum PB SEMMI, Bintang Wahyu Saputra, mengatakan bahwa inti dari semangat idul adha merupakan kita yang selalu bersyukur dan ikhlas dalam menjalani perintah Allah SWT untuk menuju insan mulia seperti yang di ajarkan para ulama syarikat islam terdahulu.

“Kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Polda Metro, Polres Metro Jakarta Pusat, Dirjen Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM serta seluruh masyarakat yang mempercayai kami sebagai penyalur hewan kurban di Idul Adha 1440 H. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita. Amin,” tutup Bintang.

sumber: suarasi.com

Ketum LTSI menjadi Khotib dan shalat Idul Adha di Komp Perumahan Cikal Harapan Jonggol

Khotib dan shalat Idul Adha di Komp Perumahan Cikal Harapan Jonggol. Dengan Tema Idul Adha bagi kehidupan bangsa, Mari kita manfaatkan momentum Idul Adha untuk menyembelih rasa benci, rasa permusuhan dan saling merendahkan akibat perbedaan pilihan dalam Pemilu. Kita bangun solidaritas dan persaudaraan yang tulus dalam suasana kebahagiaan merayakan Idul Adha.

sumber: instagram.com/hamdanzoel