by

MN KAHMI adakan diskusi Pertahanan Keamanan

Jakarta, JNN.co.id – Majelis Nasional KAHMI diskusi publik dengan tema Media Modern Antara Nilai Strategi Ancaman Pertahanan dan Keamanan Negara Yang diselenggarakan pada Jum’at, (13/12/2019) di Jalan Turi 1 Kebayoran Baru Jakarta-Selatan.

Turut hadir sebagai Pembicara Presidium Majelis Nasional KAHMI Hamdan Zoelfa, Sidra Tahta(Akademisi), dan Syafril Nasution.

Pada diskusi tersebut lebih memberatkan seberapa berbahaya Media digital untuk pertahanan dan keamanan negara, Menurut Presidium KAHMI Hamdan Zoelva mengatakan ” Kecanggihan Media Sosial susah sampai kamar tidur kita, dengan berbagai aplikasi mereka sudah tau dimana letak dan isi rumah kita, hal ini menimbulkan kerisauan yang mendalam untuk pertahanan dan keamanan negara Indonesia”, tuturnya

Menurut Sidra Tahta” selalu ada dua dampak dari pesatnya perkembangan teknologi modern saat ini khususnya dunia digitalisasi, Kementrian Pertahanan juga perlu mengantisipasi apabila ada serangan Cyber dari pihak dalam dan luar yang ingin mengganggu pertahanan Indonesia.

Pada diskusi kali ini di pandu Aci panggilan akrab beliau yang juga mantan ketua cabang depok, menurutnya “diskusi saat ini merupakan pencerdasan akan isu aktual kekinian yang harus selalu anak muda pahami”.

Salah satu audiensi Sofyan Ahmad menanyakan Apakah Kuantitas tentara RI dan Atlusista yang dimiliki saat ini sudah cukup mengingat jumlah penduduk Indonesia menempati posisi ke 4 terbanyak di Dunia, sementara jika dibandingkan dengan koreat utara tentara aktif yang siap perang berjumlah 2,5 juta orang belum lagi tentara cadangan.

Sementara Indonesia tentara aktif hanya 400 ribu orang, dengan total penduduk kurang lebih 300 juta orang dan ini sangat kurang jika dilihat dari segi kuantitas.

Menurut salah Syafril Nasution pengamat Pertahanan dan Keamanan Nasional mengatakan harusnya ” jumlah tentara aktif adalah 1 % dari total jumlah penduduk, untuk menambah biaya pasukan Indonesia harus lebih banyak menyiapkan anggaran untuk hal tersebut.” Jadi kekurangan dana penyebab utama faktor kurang nya jumlah tentara dan kurangnya jumlah atlusista baik darat, laut dan udara .

Sempat dibahas mengenai Suriah, dan Indonesia ingin disuriahan seperti negeri timur tengah lain, tapi hal ini jangan sampai terjadi, menurut Sidra Tahta motifnya saling adu domba di sosmed sehingga terjadi gesekan dan kemudia perang.

Tapi alhamdulillah hingga detik ini jangan sampai di repeblik ini ada konflik dikarenakan ada perbedaan pandangan tentang agama dan mengabaikan nilai nilai toleransi yang terkandung dalam Pancasila.(Tim)

sumber: jnn.co.id

News Feed