Potret 2 anak Nusantara asal Batavia dan Buitenzorg (Bogor) Jawa Ahmed dan Said yg bersekolah di Istanbul Turki Utsmani. Ottoman Archieve pada tahun 1900.

Dalam catatan manuskrip yang terdapat dalam buku Turki Utsmani – Indonesia relasi dan korepondesi berdasarkan dokumen Turki Utsmani yang diterbitkan oleh Hitay Holding 2017.Menjelaskan adanya korespondensi antara konsulat Turki di Batavia pada tahun 1889 tentang pengiriman pelajar jawa kepada kekaisaran Turki Utsmani di Istanbul. Dijelaskan status pelajar tersebut merupakan pelajar muslim untuk mengikuti jenjang Pendidikan Menengah – Tinggi terbaik di Turki terdapat hampir 20 pelajar yang dikirim notebene adalah para pelajar yang kebanyakan dikirim oleh organisasi Jamiat Kheir yang didirikan akhir abad 19 dan diakui secara resmi pada tahun 1901 oleh pemerintah hindia belanda di batavia.

Konsulat Turki di Batavia tidak hanya mencoba aktif untuk meningkatkan hubungan antara penduduk di Batavia-Jawa dengan Turki Utsmani, tapi juga menyediakan kesempatan bagi anak-anak bangsawan nusantara untuk dikirim ke Istanbul untuk belajar disana. Dari tahun 1898 dan seterusnya, hampir dua puluh siswa belajar di bawah bantuan Kekaisaran Turki Utsmani di Sekolah seperti Asiret Mektebi (Sekolah Kekaisaran), Mulkiye Mektebi (Sekolah Menengah Kejuruan), Darussafaka (Sekolah Menengah Pertama Turki untuk anak yatim), dan Galatasaray High School (Sekolah Menengah Atas)*. Selanjutnya diperkuat dengan manuskrip catatan penerimaaan pelajar jawa Osman Efendi dan sayid Muhammad Abdullah Al Attas Efendi di jurusan ilmu politik perguruan tinggi imperial Turki Utsmani**.

Salah satu pelajar yang dikirim merupakan anak dari pendiri Jamiat Khair Sayid Ali bin Ahmad Muhammad Syahab merupakan lulusan akademi militer Turki di Istanbul yang kemudian hari menjadikan Jamiat Kheir sebagai organisasi pendidikan Islam modern pertama dinusantara yang mengadopsi sistem pendidikan Islam modern ala Turki Utsmani. Peran Jamiat kheir tidak hanya berhenti dalam mendidik kalangan keturunan arab dinusantara namun juga mendidik para kaum pribumi muslim jawa yang kemudian menjadi tokoh pembaharuan islam dan pergerakan nasional diantaranya adalah KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah dan juga H.O.S Tjokroaminoto pendiri Sarekat Islam***.

Mengutip pidato pembukaan Sri Sultan Hemengkubowono X pada Kongres Umat Islam Indonesia di Jogjakarta pada tahun 2015 menjelaskan “Pada tahun 1903 Jamiat Khair mengadakan Kongres Umat Islam di Batavia Sultan Turki mengutus Muhammad Amin Bey dalam kongres tersebut, hasil kongres menetapkan Haram Hukumnya setiap muslim tunduk terhadap pemerintahan Belanda”. Dari hasil kongres tersebut menjadikan patokan untuk semua organisasi yang didirikan oleh anggota Jamiat Kheir termasuk Sarekat Islam untuk menggagas Ide Zelf Bestur bentuk pemerintahan mandiri yang dikemudian hari akan diteruskan oleh Ir. Soekarnomurid didik H.O.S Tjokroaminoto dalam suksesi memerdekakan Indonesia ditahun 1945 dari kolonialisme Belanda.

Selain kutipan tentang manuskrip yang menjelaskan tentang pengiriman para pelajar nusantara ke Turki, tidak kalah pentingnya adanya manuskrip informasi mengenai fatwa jihad yang juga sampai di konsulat Turki di batavia pada tahun 1919 manakala ketika itu Turki Utsmani sedang menghadapi Perang Dunia 1 informasi tersebut juga sampai kepada komunitas Muslim di Jawa sehingga memperkuat alasan gerakan nasional kebangsaan untuk lebih aktif dalam mewujudkan cita cita melepaskan diri dari Kolonialisme belanda. Hal ini diperkuat dengan dibentuknya surat kabar Oetoesan Hindia yang berbahasa arab dan melayu aktif memberitakan informasi pro ottoman (Turki Utsmani) didirikan oleh anggota Jamiat Kheir pada 26 Januari 1913 melalui N.V Handel-Maatschappij Setija Oesaha bidang ekonomi Jamiat khair dalam bentuk percetakan surat kabar guna mendapatkan simpati yang lebih luas di dunia Internasional. Setija Oesaha didirikan di Surabaya oleh anggota Jamiat Kheir Muhammad bin Saleh bin Aqil dan kepengurusannya dipercayakan kepada H.O.S Tjokroaminoto yang menjabat sebagai direktur sekaligus menjadi pemimpin redaksi surat kabar Oestoesan Hindia.

Dibidang Politik, Jamiat Khair melibatkan diri dalam organisasi Sarekat Islam. Disamping itu kegiatan Jamiat Khair dalam masalah politik dapat dilihat dari hubungan mereka dengan negara muslim diluar Indonesia. Hubungan ini menunjukkan pula sikap mereka sebagai penduduk Hindia Belanda umumnya dan anggota Jamiat Khair khususnya, yang tidak sejalan dengan pemerintah kolonial belanda. Melalui perantara anggota jamiatul kheir inilah yang notebene memiliki jaringan kuat di timur tengah hingga Turki yang kemudian dimanfaatkan oleh Sarekat Islam dalam mendapatkan dukungan usaha perjuangan kemerdekaan Indonesia di dunia internasional khususnya Mesir yang kemudian kelak menjadi negara pertama yang mengakui kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia pasca proklamasi yang diproklamirkan oleh Ir. Soekarno melalui tokoh diplomasi berasal dari Sarekat Islam yang dipimpin oleh diplomat ulung K.H Agus Salim setelah wafatnya pendiri Sarekat Islam H.O.S Tjokroaminoto.

*Turki Utsmani-Indonesia Relasi dan Korespondensi berdasarkan dokumen Turki Utsmani. Hal 72-72, Hitay Istanbul 2017

**Opcit. Hal 461-476 Arsip 52.

***Jamiat Kheir Sejarah dan Perkembangannya, Edrus Alwi Al- Masjhoer Halaman 16 & 31, Jakarta

Oleh : Achmal Junmiadi (Manajer Kuliah di Turki dan Founder Lembaga Pengkajian Indonesia Turki)

sumber: beritaturki.com